Friday, August 31, 2012

Nothing to Say

Aku terbangun menunggu pagi, menanti sedikit cahaya menerangi. Seperti biasa, tak ada yang berbeda. Kau masih di sampingku saat itu, begitu setia, tanpa mengeluh menemaniku, selalu membantu setiap aku butuh. Begitu pun dirinya, slalu ada, tak pernah jauh darimu, dariku. 

Tak pernah sekali pun terlintas di benakku untuk meninggalkanmu, walau ku tahu tubuhmu sudah mulai rapuh, tak sekuat dulu. Walau terlalu banyak godaan untuk mencari yang baru, tapi aku, tetap padamu. 

Kau tahu, meski sering ku tak acuhkanmu, bukan berarti ku tak pedulikanmu. Aku, diriku, hatiku hanya untukmu. Tapi kenapa kau pergi? tak menemaniku sampai nanti. Kau pergi tak sendiri, kau pergi bersama dia, juga dirinya.

Kau, dia, dan dirinya, tak ada yang berbeda, begitu sama. Sama setia, sama indah, sama-sama ku cinta. Tak ada iri, tak ada benci. Hanya sedikit rasa sedih karena kini aku, kau, dia, dan dirinya tak lagi bersama. Selamat tinggal, selamat jalan. Kenangan-kenangan indah kita takkan pernah terlupa. 

*written for them, my best companions (Elviolet, SEpurple, SEblack), whom have gone at shocking friday morning. baek-baek ya di sana..^_^


Tuesday, August 28, 2012

Aku 'masih' Perempuan

Aku perempuan.,

Parasku paras perampuan,
tak ada kumis, tak ada jenggot,  parasku masih cantik, meski sering ku coba merubahnya menjadi tampan

Tubuhku tubuh perempuan,
tak ada dada bidang, tak ada pundak lebar, tubuhku gemulai dengan payudara dan pinggul lebih besar

Tanganku tangan perempuan,
Tak berotot kuat, berkulit  halus, berjari lentik lembut khas perempuan

Kaki, kulit, hati, dan perasaanku perempuan
Suaraku suara perempuan
Tubuhku tubuh perempuan
Aku, diriku terbungkus dalam bingkai berwujud perempuan

Meski lebih senang ku menggunakan peci, lebih tertarik bermain bola daripada boneka. Lebih suka memakai kemeja daripada gaun berendah. Tapi aku 'masih' perempuan. Sampai nanti, sampai mati, aku tetap perempuan.




Saturday, August 11, 2012

Sesunyian Malam

Kau tahu kenapa malam begitu gelap?
Karena jika terang, apa guna bulan dan bintang, ah.

Kau tahu kenapa malam begitu sunyi?
Malam tak selalu sunyi, hanya keheningan yang berpura-pura
Kau dengar itu, jeritan-jeritan mimpi buruk para tuna wisma
Di sini, apa kau mendengarnya? rintihan-rintihan kering anak manusia
Di atas sana, mengudara desahan para petinggi tua
Nyanyian-nyanyian sendu dunia nyata, bukan fatamorgana
Tidakkah kau mendengarnya?

Malam tak pernah sunyi, tak pernah sepi
Tak ada hening, yang ada hanya bising
Bising suara yang tak slalu tersuarakan,
Tak pernah terhiraukan,
Hanya bisa dirasakan, jika kau mengindahkan



Friday, August 10, 2012

Pained

Shit!! Why should I be their daughter? Why not another? Why should I live in a family like that? No, it’s not a family. It’s a hell. Why should I have parents like them? Why me? Why not Lusy, Tya, or Bella? Why couldn’t I be like them? To be like Lusy who is always spoiled by her parents and gets everything she asked. To be like Tia who is always given love and affections by their parents. To be like Bella who gets freedom but still always in her dad and mom’s attention. Why me, God? Why?

I drive my Ferrari as fast as possible, without any direction. I don’t know where I have to go. An old man curses me because I brush his bicycle, but I don’t care. I increase my speed again and again. I’m lucky because the street is quiet, otherwise I may be dead. Death, it may be better than living with full of finance without anyone cares. Dad, mom, they all are just the same. They go early morning and go home when the cock is crowing. Not only that, they always quarrel all time around the house, makes me not feeling home. Have they ever thought about me? About their only daughter who always miss their love and affection.

I have just arrived in the town square. I don’t know why I’m here. I move my car to the left side and leave it there. I go out to whiff the fresh air, walking to the long desk under the tree. May be  by sitting there I can feel calm. But I’m still confused, nausated. I angry. I hate them very much, I hate my mom, my dad. I can feel my tears in my eyelid, but I cannot cry. No, I’m forbidden to cry. I take a deep breath then try to be calm.

It’s 7.45 in the morning. I look around,  in my left side I see a group of people wearing yellow, they sweep and clean the park with joking, laughing. They laugh, while I’m pained and it’s so poignant. In front of me, a women looks busy preparing her trade. I know that she works for her family, for her daughter who is sittinng next to her. And  I aware, my dad and mom also work for their family, for me, their only child. But it’s not what I want. They let me full of  finance, neglect me without any love and affection. I see many beggars around me, with their miserable face and old faded dress they ask coin to everyone across. I really see the opposite of my life. Without any asking and order my parents will give me much of Dollar in my bill. But I don’t need that, I just need my parent love and attention. Should I beg  to get them? Oh God, I ought to thank you. But should I thank because living in a family which I like to call it a hell?

A woman, looks like a young mother, comes to me. Her blue dress is very tidy. She brings an elegant black bag in her hand, and I see a small box there, it’s like a birthday present. The women sits next to me and invite me to chat. She is a mother, she wants to go to her son school to give him a present because her son get the best grad in his class. A very shorth chatting, but I don’t know why, I feel so pained. Maybe because I’m jealous with her son, certainly. I never get a present from my parent like him, altough I’ve ever get the best grad in my school, because they don’t know that, they never care me. What a hell with them. Will they care me? When? They only care about finance. That’s what I know.

I look at a restaurant, not far in front of me. A black Bugatti comes in parking area. I guess I know that car. A man wearing a coat comes out, I see gray hairs in his head. He turns around, then opens the left dor. He takes a beautiful women with him. I’m stressed and really shocked. The woman next to me is aware what I feel. She tells me that the woman I’m looking at is a whore or prostitute who likes to date with old men. That’s a common thing she said. She also tells me not to be shocked. But I don’t care what the woman said. I don’t care who the woman I see is. I don’t care whether she is a whore or prostitute, I don’t care. And I’ll never care about that. What I think and makes me shocked is that man. The man who wears a coat and has gray hairs on his head is someone I casually call him ‘dad’. Yes, he is my dad, and I’m really sad, shocked. And once more, I’m pained.

Thursday, August 9, 2012

Betina Kucing (part 1)

Beberapa minggu lalu saya mendapati kucing betina di rumah saya sedang hamil besar, entah itu kehamilan yang ke berapa. Mungkin yang pertama kali, sebab seingat saya beberapa bulan sebelumnya kucing tersebut masih remaja.

Untuk ukuran kucing betina, dia tidak terlalu cantik. Dia memiliki bulu bewarna campuran hijau tua, coklat dan hitam, kalo' orang jawa bilang wulu krawu. Parasnya biasa saja, tidak jauh beda dengan kucing-kucing lainnya. (saya tidak terlalu mengerti tentang kecantikan kucing, tidak seperti teman saya yang bisa menilai atau membandingkan kecantikan kucing dengan manusia, bahkan menurut teman saya itu ada kucing yang parasnya mirip Wulan Guritno atau Luna Maya. Ada-ada saja).

(kembali ke kucing). Kebiasaan dia yang paling melekat di benak saya adalah dia selalu mengeong setiap kali mendengar suara denting piring, sendok, atau suara lainnya dari ruang makan. Ngeongannya yang manja membuat saya selalu menyisihkan sisa lauk serta nasi untuk dia makan. Dengan senang dia akan melahapnya.

Tapi malam tadi sedikit berbeda. Dia hanya memandangi piring plastik berisi nasi dan lauk yang saya sodorkan kepadanya. Tumben, pikir saya. Jangan-jangan dia mau melahirkan. Saya berkesimpulan demikian karena beberapa hari terakhir dia juga bertingkah yang aneh pula, lebih manja dari biasanya. Dia lebih sering menggosok-gosokkan tubuhnya di kaki siapa pun yang berdiri di dekatnya, mencari perhatian, mungkin berharap ada yang mau mengelusnya. Malam itu saya tidak terlalu memperdulikan, toh kalau nanti dia lapar, dia pasti makan.

Menjelang pagi saya mendengar ngeongan bayi-bayi kucing dari samping rumah. Perkiraan saya benar, rupanya dia telah melahirkan anak-anaknya. Di sebuah kardus, di atas papan kayu, di sana saya dapati tiga ekor bayi kucing tergeletak bersama segumpal tipis serupa daging berwarna merah, yang mulai didatangi semut. Itu ari-arinya.  Si kucing betina tak tampak di sana. Entah kemana dia pergi, sedang mencari makan barang kali. Tapi sepertinya tidak mungkin, karena biasanya jika dia lapar, dia akan mengeong di depan pintu dapur saya. Yang jelas dia telah meninggalkan anak-anaknya di tempat yang kurang nyaman menurut saya. Apalagi di sana terdapat ari-ari yang semakin lama mengundang semakin banyak semut. Bisa saja semut-semut itu juga akan mengerubungi bayi-bayinya.

Setahu saya, seekor kucing yang telah melahirkan, dia akan menyingkirkan ari-ari yang keluar bersama anak-anaknya, biasanya dengan cara dimakan. Tapi kucing betina ini tidak melakukannya. Mungkin ini pertama kalinya dia melahirkan. Jadi belum tahu atau belum berpengalaman. Ini kucing, kucing betina, bukan sapi, kambing , apalagi anjing. Lo' manusia mungkin ceritanya bakal beda. Sekali lagi ini kucing, kucing betina di rumah saya. Masih banyak cerita tentang betina-betina lainnya.